Jokowi Jadi Imam Di Pondok Pesantren

Jokowi Jadi Imam Di Pondok Pesantren – Presiden Joko Widodo (Jokowi) bersafari ke beberapa ponpes (pondok pesantren) Jawa Timur. Lawatan pertamanya dilabuhkan ke Pondok pesantren Darul Ulum, Jombang, Selasa (18/12/2018) . Gak cuma itu, Presiden Jokowi pun kelihatan mengimami Salat Zuhur. Sesaat, berjajar jadi makmum salah satunya Seskab Pramono Anung, Wakil Ketua MPR Muhaimin Iskandar, Menag Lukman Hakim Saifuddin, Gubernur Ja-tim Soekarwo, serta Ketua DPP PKB Abdul Kadir Kading.

Kurang jelas, apa salat itu dalam artian normal atau kondisi jamak-sebagai dispensasi untuk seseorang musafir. Yg pastinya, dengan berdirinya Presiden Jokowi jadi imam, jelas itu mungkin saja berarti beda. Mengingat, kondisi kesempatan ini bertambah dekat dengan Pemilu 2019.

Awal kalinya, Jokowi pernah juga ” ditemui ” berubah menjadi imam Salat Zuhur kala kunjungan ke Afghanistan awal 2018 waktu lalu. Fotonya viral, serta memetik variasi pujian juga sekaligus nyinyiran. Fadli Zon contohnya, menyebutkan pertanda itu jadi pencitraan yg bagus. Apa pertanda kali bakal memperoleh nyinyiran mirip dari banyak pengritiknya? Kita tidak mengerti pastinya. Ditambah lagi mengingat kompetitor Jokowi di Pemilihan presiden lain kesempatan, Prabowo Subianto pun seseorang ” beginner ” dalam masalah peribadatan.

Bagaimanapun juga, masalah imam-mengimami dalam salat merupakan bab biasa. Lebih-lebih apabila dalam sebuah rombongan yg udah sama sama kenal kedua-duanya. Berubah menjadi tak biasa bilamana seorang menyelenggarakan sembahyang ditengah gerbong kereta serta mengganggu akses orang-orang.

Dalam rutinitas santri, seseorang imam salat kebanyakan didasari semangat penghormatan terhadap banyak tetua. Bila tak menimbang senioritas, ya sedikitnya kekuatan dalam soal bacaan Alquran. Kadangkala, masalah berubah menjadi imam salat ini pun dilandasi tujuan pengkaderan atau tarbiyah. Umpamanya, seseorang kiai yg memohon santrinya berubah menjadi imam salat. Atau, imam salat di masjid satu pesantren yg diidentifikasi menurut skedul piket per tingkatan atau kelas.

Di kampung-kampung dapat beda kembali ceritanya. Standarisasi kelayakan berubah menjadi imam salat maktubah (lima waktu) semuanya berubah menjadi otoritas takmir masjid ditempat. Lewat kata beda, ketentuan pemilihan sesiapa saja yg bakalan berubah menjadi imam salat merupakan hasil mutlak dari musyawarah mufakat pengurus masjid serta/atau atas perjanjian ketua takmir. Bahkan juga kerapkali sebagai imam merupakan si takmir sehabis dia sendiri mengumandangkan azan serta kerapkali juga sekaligus iqamah-nya.

Menariknya, seringkali imam salat maktubah di masjid-masjid kampung itu bacaannya kurang fasih, atau sedikitnya belum juga tartil apabila ditilik dari pandangan fikih salat. Di titik kesadaran berikut ini kebanyakan persentase toleransi kita bakal di-test. Pertanyaan-pertanyaan penuh cemas seperti, ” Apa salat kita bakal di terima oleh Tuhan? ” semestinya lumrah di ajukan. Atau, untuk muslim yg cukup expert dalam soal baca tuliskan Alquran bakal memberikan sikap skeptisnya dengan suatu pertanyaan heroik, ” Ketimbang berubah menjadi makmum si imam yg jelas-jelas tak fasih itu, tidakkah kita yg terasa udah tartil berubah menjadi punya hak mengambil alih urutan yg terkait? “

Namun, belum juga semestinya pun demikian. Dikarenakan meski bagaimanapun, salah satu pihak yg sangat otoritatif tentukan sejauh manakah di terima atau tidaknya salat, ya Gusti Allah sendiri. Apakah juga hak kita buat lantas terasa sahih mengambil alih seseorang imam yg udah dengan cara resmi di sepakati pengurus takmir jadi pemimpin banyak makmum?

Karena itu, dalam masalah ini saya sangka pendekatan yg dimanfaatkan bukan kembali masalah fikih sentris. Namun pun mengandaikan kacamata tasawuf. Oleh karena itu, pas sekali adagium yg menjelaskan kalau al-istiqomatu khoirun min al-fi karomah. Ya, kedisiplinan itu lebih baik dibanding dengan seribu karamah. Pada perkara itu, bisa jadi si imam, meski tak fasih-fasih benar-benar, tambah lebih memperoleh keutamaan di sisi-Nya dibanding dengan kita yg walaupun bacaannya tartil namun tetap bolong-bolong salatnya.

Itu belum juga termasuk juga imam masjid satu dengan masjid yang lain yg beda bendera. Menyaksikan realita Indonesia jadi negara dengan populasi umat Islam paling besar, masjid semestinya adalah soal prinsipil. Serta, kadangkala pada satu masjid dengan masjid yang lain punyai sifatnya sendiri-sendiri.

Masjid yg diatur perserikatan Muhammadiyah umpamanya, semestinya bakal tidak sama dengan masjid yg pengurus takmirnya merupakan penduduk nahdliyin. Baik dari sisi fisik yg disinyalir oleh karena ada kentongan atau bedug serta tongkat di mimbar kotbah atau dari faktor ritualistik kala Salat Subuh serta hitungan azan di waktu Jumatan contohnya, semasing punyai sifatnya sendiri.

Pada titik ini, kemungkinan tetap tidaklah terlalu punyai masalah. Toh, sekarang banyak masjid-masjid Muhammadiyah kala Salat Subuh imamnya berikan peluang kemungkinan ada satu diantaranya jamaahnya yg ingin berdoa qunut terlepas rukuk pada rakaat ke dua. Benar-benar indah sekali. Toleransi sekali.

Yg mengerikan, apabila masjid di alih-fungsi berubah menjadi ladang persemaian keperluan politik praktis. Semestinya siapa-siapa saja yg tetap waras bakal memahami, begitu masygul serta bebalnya pertanda Pemilihan kepala daerah DKI 2017 terus yg alih-alih membuat baitullah, masjid malahan gak ubahnya posko kemenangan satu diantaranya pasangan calon. Dimulai dari pelintiran ayat sampai mayat, itu semua hampir berubah menjadi monopoli banyak penceramah yg mengkotbahkan ijtihad kedengkian.

Gak ayal, segala beribadah kita lantas berubah menjadi sangatlah ideologis, lantaran ada sejenis sindrom kegalauan, ” Jangan-jangan salat kita tak resmi oleh dikarenakan beda bendera atau pilihan politik, ” yg digelondongkan dengan cara masif. Serta, buat itu sesungguhnya saya terasa geli. Dikarenakan, mengetahui masalah lima tahunan dengan yg ila yaumil qiyamah saja tetap ada masalah kok ngaku-ngaku bela Islam.

Terlepas dari masalah pilpras-pilpres itu, senyatanya pertanda Presiden Jokowi berubah menjadi imam salat (kembali) merupakan biasa saja. Sepantasnya seseorang muslim, Jokowi memang semestinya menunaikan keharusan salat, khan? Apa bisa jadi imam atau makmum, jelas itu bab beda terkait kondisi lapangan.

Yg pastinya, salat itu masalah personal yg mengharuskan ketundukan terhadap Dzat Yg Maha Tinggi. Serta, bukan ranahnya juga kesalehan ritual itu seakan-akan diglorifikasi jadi ketentuan mutlak layak-tidaknya seseorang berubah menjadi presiden.

Lagian, kita ini pengin pemilihan presiden, bukan pilihan takmir masjid. Berubah menjadi Presiden itu urusannya terkait menyejahterakan rakyat, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan menegakkan kemanusiaan yg adil serta beradab. Bukan dengan fasih-fasihan ” Alpatekah ” atau hulaihi.

Anwar Kurniawan alumnus STAI Sunan Pandanaran, aktif di Populasi Santri Gus Dur Jogja